Selamat Datang,

Terima kasih sudah berkunjung ke Jasa Cetak Brosur Sims Printing. Kami sudah berpengalaman dalam jasa pencetakan brosur maupun jasa pencetakan produk lainnya. Kami sudah berpengalaman mencetak brosur mulai dari jumlah ratusan hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu eksemplar.

Untuk Anda yang tak mau repot, kamilah solusinya ! Kami jasa pembuatan brosur yang bisa membantu anda dari sejak pembuatan desain brosur hingga cetak brosur jadi. Anda tinggal terima beres!

Sebagai jasa percetakan brosur, kami sudah melayani cetak brosur dari puluhan klien sejak tahun 2005 dari berbagai jenis usaha. Kami bisa melayani cetak brosur makanan, cetak brosur minuman, cetak brosur, rumah makan, cetak brosur perumahan, cetak brosur fashion, cetak brosur lembaga pendidikan, cetak brosur yayasan, dan lain sebagainya.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Brand Learning dari Kodak

Berita bangkrutnya perusahaan kodak adalah kabar buruk bagi pecinta fotografi. Kodak, adalah perusahaan yang didirikan oleh Goerge Eastman di tahun 1889. Istilah kodak sendiri sudah tidak asing di Indonesia. Bahkan  beberapa tahun yang lalu, kodak menjadi sebutan untuk kamera. Seperti penyebutan aqua untuk air mineral dan sebutan tensoplast untuk perban kain.

Ketika kamera digital belum populer, pilihan untuk membeli kamera pocket, terbatas pada fuji atau kodak. Berbeda saat kamera digital sudah mulai booming, pilihannya pun menjadi beraneka ragam. Merek-merek yang bermunculan bukan hanya dari merek kamera, tapi dari merek-merek barang electronic yang sudah memperluas lini produknya hingga kamera digital. Padahal teknologi kamera digital ini sendiri pertama kali dikenalkan oleh kodak di tahun 1999.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa perusahaan pionir yang pertama kali mengeluarkan produk, justru jadi sangat tertinggal dibandingkan pesaing-pesaingnya ? Ada beberapa kemungkinan yang tidak diperhitungkan oleh kodak ketika teknologi semakin berkembang dan kodak bukanlah satu-satunya yang memiliki teknologi tersebut.

Pertama, meskipun brand kodak sudah sangat melekat di masyarakat, Kodak seharusnya tidak menutup kemungkinan kalau perusahaannya bisa saja bangkrut. Kodak harus tetap memikirkan strategi yang terus diperbaharui. Ini artinya, penting untuk mempelajari konsumen dan mengetahui apa yang diharapkan konsumen, meskipun perusahaannya adalah perusahaan besar.

Kedua, kodak tidak memperhitungkan pesaing dari arah lain. Persaingan kamera saat ini bukan hanya produk kamera, tetapi juga produk-produk digital teknologi. Kebanyakan orang lebih suka menggunakan kamera dari handphone, kamera dari tablet atau dari komputer yang lebih memudahkan mereka untuk berbagi dengan teman-teman dan kerabatnya melalui media sosial. Konsumen kamera sudah memiliki kebutuhan lebih dari sekedar kamera. Namun kodak seakan tutup mata dengan hal ini. Seharusnya kodak sudah melakukan diferensiasi produknya ke lini bisnis lain dan lebih sensitif dengan perkembangan teknologi. Seperti  kata pepatah innovate or die.

Ketiga, kodak adalah produik yang sudah memiliki tempat di hati masyarakat. Kodak sudah sangat mempatenkan dirinya sebagai perusahaan kamera analog. Meskipun kodak yang pertama kali memperkenalkan teknologi kamera digital, namun kodak tidak melihat potensi dari produknya sendiri. Kodak lebih mengkhawatirkan terjadinya kanibalisasi. Tapi ternyata yang terjadi adalah produk kodak justru tenggelam karena tidak mengganti strategi marketingnya. Kodak seakan termakan oleh brandnya sendiri.

Saat ini, tak ada jaminan bahwa suatu merek akan terus bertahan sebesar apapun dirinya. Maka, penting bagi kita untuk terus belajar untuk berubah, beradaptasi, berani mengambil resiko, menghormati pendapat orang lain, peka terhadap lingkungan dan pasar agar dapat terus bertahan.

Sumber : http://ssicommunity.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar